* Artikel oleh Margaret Feinberg ini saya baca di majalah Charisma Indonesia edisi Februari - Maret 2007 *
————————————-
Satu pertanyaan yang akhir - akhir ini membuat saya terpaku —– dengan tidak adanya meja atau kamar ganti untuk bersembunyi— adalah apakah saat ini kita hidup di akhir jaman. Memang ini pertanyaan yang sederhana, tapi yang membuat saya terpana adalah pertanyaan itu sendiri dan bukan orang yang menanyakannya.
Orang yang menanyakan pertanyaan tersebut bukan seorang yang terjaga pada malam hari karena menonton Jack Van Impe di stasiun televisi TBN. Malah, dia seorang hippies muda yang berusia 20an tahun. Saya melihat pancaran ketulusan dari matanya bahwa ia benar - benar ingin tahu. Dan mungkin, ia mempertanyakan sesuatu yang kita pribadi bertanya juga pada diri kita sendiri secara diam - diam dari waktu ke waktu.
Apakah kita sedang hidup di akhir jaman?
Saya menangkap sesuatu tentang pertanyaan tersebut. Setelah Anda mewawancarai segelintir orang, Anda akan menemukan kebenaran yang sederhana namun luar biasa; jika Anda menanyakan pertanyaan yang salah, maka Anda akan mendapatkan jawaban yang salah juga. Jadi, dengan cara yang halus dan cepat saya menyuruh pemuda berusia 20-an itu untuk mengulangi pertanyaannya.
Saya rasa maksud Anda," Bagaimana jika kita hidup di akhir jaman?"
Tanpa menghindar dari pandangannya, saya melanjutkan," dan ini membawa pertanyaannya menjadi,’bagaimana jika tidak?’"
"Apa maksud Anda?" tanyanya dengan nada menekan.
"Saya rasa jika kita memandang ke sekeliling kita, cukup sulit untuk menyangkal bahwa pada banyak segi, baik secara politik, sosial,ekonomi, maupun agama, dalam hitungan jam dunia secara perlahan melambat. Saya rasa kita semua punya insting, bertanya secara diam - diam " Mungkinkah ini terjadi ?" Itu artinya setiap hari mengenal dan mengikut Jesus lebih penting dari semua hal.
"Tapi bagaimana jika kita sedang tidak hidup di akhir jaman?" lanjut saya." Bagaimana jika itu terjadinya pada generasi anak - anak kita, atau generasi cucu - cucu kita, atau generasi 100 atau bahkan 1.000 tahun dari sekarang ?"
Kemudian apa yang kita lakukan untuk membangkitkan generasi - generasi berikutnya? Apa yang kita lakukan untuk menjangkau, mengimpartasi dan menghembuskan nafas kehidupan pada jiwa mereka seperti pembawa semangat iman yang menggebu - gebu?
" Apakah kita sedang hidup di akhir jaman ataupun tidak, kita perlu hidup dengan tangan menjangkau ke depan dan ke belakang," saya menyimpulkan. Kita perlu belajar dan mengumpulkan sedikit demi sedikit semua hal dari generasi sebelum kita, dan pada saat yang bersamaan mengimpartasikan sebanyak yang kita bisa pada mereka.
Dengan kata lain, di jaman apapun kita hidup, kita tetap punya rencana. Kita tetaplah orang - orang yang dipanggil dan dipilih untuk menyebarkan kabar baik yang paling luar biasa ini ke seluruh penjuru dunia. Kita tetaplah orang - orang yang dirancang untuk membawa transformasi kepada dunia, untuk merajut rancangan Tuhan yang dimasukkan ke dalam kain kebudayaan kita. Dan bukan saja membangkitkan kabar baik tersebut tetapi membangkitkan "kehidupan kabar baik" itu ke generasi berikutnya."
————————————
Margaret Feinberg, www.margaret-feinberg.com, adalah seorang penulis lebih dari seribu buku, termasuk God Whispers ( Tuhan Berbisik ), twenty something ( 20an tahun ) dan What The Heck Should I Do with My Life? ( Apa yang Harus Kulakukan dengan Hidupku? ). Ia berharap anda mau berdiskusi lebih lanjut dengannya online di www.margaretfeinberg.blogspot.com
————————————————